Comparing and Synchronizing | A Readable Journal …

Comparing and Synchronizing

Comparing merupakan aktifitas membandingkan 2 hal atau lebih untuk dicari kelebihan dan kekurangannya sehingga memudahkan untuk memilih salah satunya. Untuk memilih barang yang diinginkan dengan menggunakan cara ini dapat meningkatkan keuntungan dan mengurangi kerugian. Lalu pertayaan yang cukup menarik adalah : “apakah cara tersebut juga cocok diterapkan dalam memilih manusia untuk berhubungan ?”.

Comparing Something

Comparing Avocado

Misalnya A yang menyukai B, tapi B menyukai juga C. Karena saat ini B menyukai A dan C sehingga dia membandingkan keduanya, untuk dicari yang terbaik. Dan setelah proses perbandingan ternyata C lebih baik dari pada A, lalu B memilih C karena lebih nyaman dan tidak perlu jadi orang lain. Padahal dilain pihak si A ternyata sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sampai disitu semua terlihat baik-baik saja jika manusia dianggap sebagai benda yang tidak punya perasaan, sayangnya manusia punya logika dan perasaan. Sehingga pasti A merasa terluka/sedih (intensitasnya tergantung pribadi masing-masing) jika tidak terpilih karena dia sudah terlebih dahulu berhubungan dengan B.

Kasus diatas merupakan masalah yang umum terjadi dan pernah dialami teman-teman penulis sendiri (sebagai A). Yang lebih menariknya lagi, ternyata masalah di atas belum selesai sampai disitu. Karena satu dan lain hal ternyata B harus bersama A, ini merupakan hal yang berat bagi A dan B. Sebab dibutuhkan usaha yang tidak mudah untuk menyatukan mereka, apalagi bila dalam benak B terlah tertanam kepribadian C dan menjadikannya “standar” untuk membuat A seperti itu. Jika begitu masalah baru yang lebih besar muncul yaitu keinginan B untuk menjadikan A seperti C, karena B tidak ingin menjadi orang lain. Bila B mempunyai “standar” tersebut maka usaha apapun yang dilakukan A kurang berharga di mata B jika tidak seperti C, karena B tetap berfokus pada C. Lalu bagaimana kelanjutan hubungan A dan B ? apakah dapat berjalan dengan baik nantinya ?.

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan sebuah aktifitas yang bernama synchronizing. Synchronizing merupakan suatu aktifitas dimana kedua belah pihak (dalam kasus ini) harus dapat saling menyesuaikan dan penyesuaian tersebut harus dilakukan oleh keduanya. Berikut ini beberapa langkah-langkahnya :

1. Yang harus dihilangkan dari B adalah “standar”, memang untuk menghilangkannya butuh usaha yang besar tapi harus dilakukan, jika tidak masalah tidak akan pernah selesai. Karena secara tidak langsung B mengharapkan A menjadi C, harapan tersebut secara tidak langsung juga telah melebur keunikan tiap individu dan lebih mementingkan ego  B (yang tidak perlu berubah jika bersama C).

2. Setelah B bisa menghilangkan standar tersebut, A harus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik (mengambil referensi dari keinginan B) tapi sesuai dengan kemampuan dan B juga harus begitu (mengambil referensi dari keinginan A).

3. Sampai disitu sifat keduanya belum tentu cocok karena mungkin masih ada unsur ketidakcocokan, untuk melebur ketidakcocokan tersebut salah satu caranya adalah dengan menerima kekurangan masing-masing dengan rendah hati. Karena dengan kerendahan hati kita bisa melihat apa kekurangan dan kelebihan kita dan perlu diingat tidak ada yang 100% cocok.

Jika 3 langkah tersebut dilakukan, tapi B tetap fokus pada C maka hal terbaik yang bisa dilakukan A adalah mengikhlaskan yang telah terjadi dan belajar hanya untuk menjadi teman B. Karena yang namanya perasaan tidak dapat dipaksa, jikalau tetap dipaksakan tidak baik untuk kedua belah pihak karena hanya akan membuat A tidak merasa dihargai (harus selalu menjadi seperti C) dan juga B merasa tertekan karena merasa tidak cocok dengan A yang tidak seperti C.

Kesimpulannya  :

1. Jangan menganggap manusia seperti benda yang dapat dibandingkan seenaknya, karena manusia punya logika dan perasaan.

2. Dalam melakukan synchronizing harus dilakukan dua arah oleh kedua belah pihak, dengan kerendahan hati, dan mengesampingkan ego masing-masing.

Saran dari penulis :

“Jika sudah memegang komitment, maka jangan melihat ke “rumah” yang lain, karena biasanya “rumput” tetangga lebih hijau dan subur. Tapi belum tentu lebih baik dari pada “rumah” sendiri.”


7 Responses to “Comparing and Synchronizing”

  • Virna Says:

    Cinta memang tidak harus memiliki. Kita cm bisa berusaha doang semaksimal mungkin,dan selanjutnya God will do the rest., bukan begitu bukan? hihihi…

  • widya Says:

    pilih yang terbaik, diantaranya

  • Gandi Wibowo Says:

    Pembahasannya menarik, penuh intrik..
    Solusi yang di kasih juga logis dan (Kayaknya) berdasarkan pengalaman ya? [Sotoy Mode: On]

    Semua masalah sebetulnya bisa selesai dengan Komunikasi yang “Baik” dilandasi kejujuran dan Kesedian Saling memahami pendapat orang lain.

    BTW salam kenal… Lagi lewat, eh kesangkut, jadi pengin kasih Komen :P

  • Ferry Wijaya Says:

    penuh intrik .. hahahahha.

    hah ? pengalaman ?
    iya berdasarkan pengalaman beberapa temen gw, trus gw coba liat tren dan simpulin.

    ok salam kenal … :D
    makasih ya commentnya … :D

  • Win Says:

    Di sisi lain mungkinkah Tuhan akan memberikan seseorang yang lebih baik untuk A?
    Mungkinkah Tuhan memberikan rasa sakit kepada A agar menjadi lebih matang?
    Jodoh itu di tangan Tuhan. Tuhan lah yang memberikan rasa cinta dan kasih sayang. Kita sendiri tidak tahu apakah rasa cinta tersebut adalah anugrah atau ujian (contoh rasa cinta terhadap sesama jenis).
    Do you believe in fate?
    Maybe God had prepared something for A :)

    Sebagai referensi, ada yang nonton film proposal daisatsuken? Cerita tentang seseorang (X) yang berusaha merubah takdir mencegah pernikahan orang yang dicintainya (Y) dgn orang lain (Z).
    Di satu sisi, penonton diajak melihat perjuangan si X untuk mengungkapkan perasaannya, disisi lain si Z adalah seseorang yang telah mendapatkan Y dengan cara yang baik.
    In the end ada yang akan menangis antara X dan Z. Apakah Tuhan memberikan takdir yang jahat untuk yang ‘kalah’?

    **sekalian promosi film ya hiehiehiehie…

  • Win Says:

    sori nama filmnya proposal daisakusen
    menang best dorama loh hehehe…

  • Ferry Wijaya Says:

    @win : kalau cinta sesama jenis itu jelas penyimpangan bukan anugrah. Itu di jelaskan dalam al-quran surat FAATHIR (PENCIPTA) ayat 11 yang artinya :

    “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”.

    semua yang ditakdirkan oleh allah (karena saya orang islam) tidak bisa di rubah tanpa izinnya. dan itu sesuai dengan surat AL AHZAB (GOLONGAN YANG BERSEKUTU) ayat 17. yang artinya :

    “Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”.

    Untuk masalah hubungan memang jodoh di tangan allah, tapi sebagai manusia kita wajib berusaha agar semuanya berjalan baik. Jika hasilnya kurang baik dan kita sudah berusaha sebaik mungkin berarti sudah ditakdirkan seperti itu.

    @all : maaf ya kalo komentar saya berbau islami, untuk yang agama selain islam saya mohon maaf sekali lagi.

Leave a Reply