Sebuat Cerita Tentang Pilihan … | A Readable Journal …

Sebuat Cerita Tentang Pilihan …

Di suatu siang yang terik dan panas sekali, saya sedang melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pada hari sabtu yaitu menjadi pedagang komputer. Ketika itu saya baru kembali dari mangga dua dan langsung mengantar pesanan ke tempat client yang kebetulan sebuah sekolah dasar. Sekolah tersebut terlihat cukup bagus, rapi, dan bersih tapi masih menggunakan bangunan model lama.

Ketika sampai di sana banyak sekali anak-anak yang sedang bermain kesana kemari, ada yang bermain petak umpet, bentengan, bola, dan ada pula yang ngerumpi (hehehehe kebanyakan nonton sinetron tuh). Tapi keramaian tersebut aku acuhkan saja karena aku mesti melanjutkan pekerjaan untuk memasang barang pesanan yang telah dibeli. Ketika sedang asik memasang alat tersebut tiba-tiba aku ingin ke toilet dan dalam seketika aku langsung menuju di toilet. Sesampainya di sana saya mendengar suara pianika yang mendendangkan lagu Main Hati dari Andra & The Backbone, langsung terbersit difikiranku “Siapakah yang memainkan lagu tersebut dengan apik ? “. Kemudian terfikir “Wah pasti ada salah seorang penduduk yang sedang latihan”. Lagu tersebut terus dimainkan sampai aku berjalan keluar dari toilet. Dan … aku cukup terkejut ternyata seorang anak kecil kelas 5 SD (aku mengetahui dia kelas 5 SD karena dia berada di ruang kelas 5) yang memainkan lagu tersebut. Dan hatiku berkata “HAH ???? anak kelas 5 SD ??? bisa bermain sebagus itu ??”, ku akui sangat tertarik untuk mengetahui tentang anak tersebut lebih dalam.

Tanpa berfikir panjang aku masuk ke kelas 5 dan ku sapa anak itu. Setelah itu kami mulai berbicara .

Aku : Hai kawan kau hebat sekali memainkan pianika ?

Dia : Ah biasa saja, aku masih belajar.

Aku : Sejak kapan kamu belajar ?

Dia : Hm… Aku belajar sejak kelas 1 SD.

Aku : Kamu suka musik ? atau hanya ingin mencoba belajar musik ?

Dia : Iya, saya sangat suka musik dan ingin menjadi musisi nanti.

Aku : Hm .. Kalau boleh tau, kenapa kamu tidak bermain dengan temanmu di luar ?

Dia : Oh.. mungkin saya sering dibilang aneh karena jarang bermain bersama mereka dan memilih latihan musik. Karena buat saya berlatih musik lebih menyenangkan ketimbang bermain dan lebih menguntungkan buat saya. (Mendengar jawabannya aku sangat senang sekali karena masih ada anak yang belajar sesuatu bukan karena dipaksa atau keharusan tapi untuk dirinya sendiri dan dia mencintai apa yang dia kerjakan).

Aku : Boleh tanya satu lagi ??, hm .. bagaimana dengan nilai pelajaran yang lain ? apakah bagus juga ?

Dia : Kebetulan saya rangking dua sekarang jadi nilainya lumayan bagus.

Aku : Ya sudah lanjutkan latihan mu, Aku pulang …

Dia : iya, terima kasih ..

Tak lama kemudian aku langsung ijin pulang dan kembali ke rumah dengan perasaan senang karena aku bertemu sesosok anak kecil yang unik dan berprinsip !!.

Lain waktu aku pernah bertemu seorang anak kecil pula di suatu tempat, sayang aku lupa dimana tempatnya. Sepertinya anak tersebut sedang bingung tentang sesuatu, maka perlahan aku dekati dan kemudia bertanya padanya.

Aku : Hai, kelihatannya kamu bingung ?

Dia : iya, aku bingung tentang masalah pelajaran fisika yang baru ku dapat tentang relativitas.

Aku : Bagian yang mana ?

Dia : kemarin guruku mengajarkan tentang rumus relativitas E=mc^2, kemudia ku bertanya apa maksud dari rumus tersebut dan apa artinya ?. Kemudian guruku menjawab ya itu artinya Energi =  massa benda di kali kuadrat kecepatan cahaya. Kemudia aku bertanya lagi Apakah tidak ada maksud lain yang relevan dengan rumus tersebut. Lalu sang guru menjawab “yah pokoknya pakai saja rumus itu untuk melakukan perhitungan tentang relativitas”. (Aku terdiam dan tidak bisa menerima jawaban tersebut). Kemudian sontak anak itu bertanya kepadaku, apakah anda bisa menjelaskan semua itu kepada ku ?

Aku : hm .. aku akan coba menjelaskannya. Rumus tersebut memiliki makna bahwa Energi berbanding lurus dengan massa dikali kecepatan dari benda tersebut (kecepatan cahaya), dan itu berarti setiap benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya  maka masanya akan meluruh sedikit demi sedikit menjadi energi hingga massanya nol. Dengan menggunakan rumus tersebut dapat disimpulkan bahwa kita tidak mungkin bergerak sama dengan kecepatan cahaya karena kita akan habis menjadi energi.

Dia : Nah .!!!!! itu baru penjelasan. aku mengerti sekarang kenapa kita tidak bisa bergerak secepat cahaya (pernah ku tanyakan kepada guruku dan dia hanya menjawab “kita tidak mungkin bergerak secepat itu” tapi tidak pernah bisa menjelaskan kenapa). Dan sekarang aku baru mau mengerjakan tugas yang diberikan guruku tentang relativitas karena aku tau apa yang aku kerjakan bukan hanya menggunakan rumus. Hm .. boleh aku bertanya satu lagi ?

Aku : Aku coba menjawabnya.

Dia : Bagaimana dengan gerak benda dalam relativitas ?

Aku : Saya akan menjelaskan gerak bukan hanya dalam relativitas tapi untuk semua gerakan yang terjadi dalam kenyataan.Sebuah benda dapat dikatakan bergerak apabila pengamat tidak berada pada benda yang bergerak tersebut tapi pada benda lain yang memiliki arah gerak berbeda atau kecepatannya tidak sama, bisa diam, lebih lambat, atau lebih cepat. Kesimpulannya gerak adalah relatif dari benda lainnya.

Contoh :
A -> 5 m/s
B -> 10 m/s (pengamat berada di B)

dari contoh di atas, pengamat akan mengatakan bahwa A bergerak menjauhi dia dengan kecepatan 5 m/s.

<- A 5 m/s (pengamat berada di A)
B -> 10 m/s

dari contoh di atas, pengamat akan mengatakan bahwa B bergerak menjauhi dia dengan kecepatan 15 m/s… eits …. kenapa 15 m/s ?????. itu di sebabkan kedua benda tersebut bergerak dengan arah yang berbeda sehingga pengamat melihat A bergerak lebih cepat dari kecepatan sebenarnya. Kalau mau hitung secara matematis, maka ..

10 m/s - (-) 5 m/s = 15 m/s

Contoh di atas menunjukkan bahwa gerak sangat bergantung pada posisi sang pengamat apakah berada di benda A atau B. Disetiap posisi pengamat akan mengatakan hal yang berbeda ketika di A maka dia mengatakan B yang bergerak, tapi ketika dia di B maka dia mengatakan bahwa A lah yang bergerak. Kedua persepsi tersebut tidaklah salah dalam konsep relativitas, karena dalam konsepnya relativitas Einstein menjelaskan hubungan beberapa persepsi dari sebuah kejadian yang sama.

Dia : Hoo begitu  ..hm.. sampai disini aku mengerti dan tau selangkah di depan temanku. Dan mendengar penjelasan anda membuatku sangat penasaran tentang hal ini. Aku akan mencari lebih banyak lagi, tapi sebelumnya terima kasih banyak. Kapan-kapan saya bertanya lagi hehehe

Aku : iya sama-sama.

Sekali lagi aku sangat senang masih ada anak yang menyukai / mempelajari sesuatu bukan karena keharusan, tapi mencintai dan menikmatinya !!!!


6 Responses to “Sebuat Cerita Tentang Pilihan …”

  • Virna Says:

    Itu baru anak pintar…!
    Tapi setelah banyak berinteraksi dengan anak-anak jaman sekarang, gw perhatiin, anak sekarang sama anak jaman kita beda Fer (mungkin jaman gw kali yaa, cuz i’m a bit older than you are), anak jaman sekarang memang sudah lebih kritis analitis….kenapa begini, kenapa begitu…?
    Klo jaman kita kan, klo E=mc^2, yaaa emang udh gitu…kurang kritis deh.
    Itu menurut gw yaa…

  • win Says:

    Anak jaman sekarang memang sudah lebih kritis analitis –> ngga juga sih Vir…
    Aq justru banyak menemukan anak2 yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan, justru orang2 jaman dulu yang lebih kritis, penemu2 lebih banyak dulu daripada sekarang kan ;P despite sekarang ada internet yang menjadikan lebih banyak source untuk research…
    Aq juga menemukan seseorang yang kritis banget, karena dia punya prinsip “why don’t i know?”
    Jadi.. semua itu balik ke dirinya masing2 huahahahha…

    Talking about that.. katanya nih.. sifat kritis dan kecintaan kepada suatu ilmu merupakan pemberian dari gen2 (berdasarkan ilmu pengetahuan) atau merupakan pemberian dari yang membuat gen (berdasarkan agama). Nah, jika sang anak tidak mempunyai sifat yang kritis atau cinta terhadap pendidikan, dia salah ga?

  • Ferry Wijaya Says:

    hm … masalah gen2 atau pemberian aq sendiri kurang ngerti. Tapi lepas dari itu saat ini yang aq perhatiin anak2 sekarang lebih perduli dengan hasil bukan dengan proses. Contoh aq pernah ke 3 sma terdekat dari rumah, di dalam kelas terdapat tulisan “Mari kita berusaha dapatkan nilai yang bagus agar bisa lulus”. Hm .. menurut aq kalimat tersebut sama sekali tidak mendidik anak2 untuk menjadi orang yang mengerti suatu proses untuk hasil tertentu. mereka di doktrin untuk bagaimanapun caranya mendapat nilai bagus untuk lulus. Padahal kalo kalimatnya di ganti jadi “mulailah mengerti dan memahami apa yang kamu ketahui”, “cari ‘benang merah’ untuk tiap masalah dan kamu akan mudah menyelesaikan masalah tersebut”, dll. Pasti anak2 jaman sekarang pada seneng dan interest sama pendidikan.

  • vinna Says:

    setujuuu.. dedikasi untuk memilih hal2 yg ga umum emng bakal menuai kontra, tp it will worth the wait someday.. sm ma dedikasi gw buat candi2 & ancient heritage yg bikin gw dicap aneh ma org2.. hidup candi!! :D

  • Ferry Wijaya Says:

    @vinna : hahahaha .. mantep vin .. lanjut teruuussssss …. gw dukung. trus bikin tulisan de .. biar gw baca .. :D dan bisa nambah ilmu

  • Ferry Wijaya Says:

    @vinna : umumnya orang emang lebih suka pada hal-hal yang umum, karena lebih banyak “pengikutnya”. Tapi untuk urusan detail dari suatu ilmu, orang2 yang tidak fokus pada 1 bidang pengetahuannya akan mengambang pengetahuannya. Sebenarnya kita bisa fokus pada beberapa bidang sekaligus, tapi mungkin tidak semua orang mampu melakukannya.

Leave a Reply