Marketing Yourself ! : How to improve your value in competency market. | A Readable Journal …

Marketing Yourself ! : How to improve your value in competency market.

Pernahkah anda mendengar kalimat “buat apa sekolah tinggi-tinggi, orang yang S1 aja banyak yang nganggur” ? atau kalau anda memposisikan diri sebagai konsumen dan disodorkan barang-barang baru dengan fungsi dan kegunaan yang sama, barang yang mana yang anda pilih ?.

Wait For Interview ..

Wait For Interview ..

Kondisi yang pertama “buat apa sekolah …” dapat muncul disebabkan karena banyaknya lulusan perguruan tinggi sehingga hanya menjadi sebuah comodity. Orang-orang tahu kalau misalnya lulusan S1 Teknik Informatika mampu membuat program dan sistem, tapi suatu perusahaan tidak bisa melihat sesuatu yang menarik dari para lulusan S1 TI. Yang ada di benak mereka adalah ketika mereka memperkerjakan seseorang lulusan S1 TI atau apapun, mereka dapat memberhentikan atau tidak melanjutkan kontrak mereka dengan mudah dan bisa mendapatkan gantinya dengan mudah dengan bayaran yang lebih murah. Lalu kebingungan yang muncul pada kondisi ke dua disebabkan karena kita tidak bisa melihat keunikan dan sesuatu yang menarik dari barang-barang yang ditawarkan oleh produsen.

Jika dilihat dari sudut pandang marketing kondisi tersebut disebabkan differentiation yang masih lemah serta positioning yang tidak jelas.

Differentiation merupakan faktor pembeda antara lulusan satu dengan lainnya, dimana memiliki 3 elemen penting (Hermawan Kartajaya), yaitu : Konten (what to offer), konteks (how to offer), dan infrastruktur (enabler). Dimana ketiga elemen tersebut tidak terpisahkan satu sama lain, mari kita lihat secara lebih dalam ketiga elemen tersebut :

1. Konten (what to offer). Kita semua tahu bahwa semua lulusan S1 TI (misalnya) dapat membuat sistem dan program seperti yang telah saya singgung sebelumnya, tapi permasalahannya kita hanya menjadi comodity. Dan yang menarik adalah bagaimana kita keluar dari comodity tersebut ??, jawabannya adalah buat suatu perbedaan yang unik dan sulit untuk diikuti oleh yang lain. Coba lihat seorang dedy mizwar, dia merupakan aktor kawakan yang sukses dari jaman muda hingga tua. Padahal dia tidak setampan bintang muda korea “Rain” atau bintang-bintang top sekarang lainnya yang banyak jumlahnya. Jawabannya karena dedy mampu membuat suatu yang unik dari dirinya dengan menggabungkan akting yang natural dan lucu tapi dalam setiap filmnya selalu ada nilai-nilai moral yang disampaikan. Sangat jarang sekarang ada film komedi tapi penuh nilai-nilai moral, yang banyak sekarang adalah komedi yang hanya membuat kita tertawa tapi setelah menonton kita tidak mendapatkan sesuatu selain tertawa. Lalu bagaimana apabila kita sebagai lulusan S1 TI atau jurusan lainnya agar keluar dari comodity?, kita bisa mengikuti training, seminar, atau kita menguasai suatu ilmu yang belum dilirik orang saat ini tapi mempunyai potensi yang bagus dimasa mendatang. Sekali lagi kita harus jeli dalam membuat suatu konten yang benar-benar unik dan menarik.

2. Konteks (how to offer). Dengan konten yang unik dan menarik saja tidak cukup membuat orang tertarik kepada kita, tapi kita harus bisa “memberi tahu” keunikan kepada orang lain. Bagaimana caranya ????. Misalnya saja kita sudah memiliki konten yang manarik, tapi karena kita tidak pandai bersosialisasi maka orang tidak mengetahui seluruh kemampuan kita. Untuk masalah sosialisasi kita mesti belajar dari para Entertainer dalam hal ini, karena mereka bisa membuat orang mengerti apa yang hebat dari dirinya dan merasa senang berbicang dengannya. Selain itu masalah skill packaging juga penting, skill packaging adalah suatu set kemampuan kita yang saling mendukung satu sama lain sehingga meningkatkan value dari kemampuan lainnya. Misalnya saja seorang Software Engineer tidak hanya memahami masalah software saja, tapi mengerti database dan networking juga. Ketiga kemampuan tersebut merupakan contoh skill packaging yang bagus.

3. infrastruktur (enabler). Dengan konten dan konteks yang bagus merupakan modal awal yang kuat, tapi differentiation yang unik membutuhkan infrastruktur yang menyokong konten dan konteks. Apa sih yang contoh dari infrastruktur itu ?. Di era sekarang dimana internet bukan merupakan kebutuhan sekunder, kita dapat memanfaatkan internet sebagai media pendukung infrastruktur. Salah satu contoh yang paling umum adalah home page. Home page yang berisi data-data diri dan kemampuan kita dapat diakses oleh siapa saja dan kapanpun asalkan terkoneksi ke internet. Selain home page, kita juga dapat memanfaatkan job seeker, seperti : JobsDB, Jobstreet, dll.

Dapat disimpulkan bahwa ketiga elemen tersebut sangat erat berkaitan :
1. konten bagus tapi konteks dan infrastruktur yang buruk tidak akan menambah nilai kita dalam persaingan kerja, karena orang tidak mengetahui kemampuan kita yang sebenarnya.
2. konten biasa saja tapi konteks dan infrastruktur yang bagus akan menambah nilai kita, tapi kita akan sulit berkembang karena kontennya sendiri kurang menarik.
3. konten, konteks, dan infrastruktur yang bagus merupakan kombinasi yang akan menambah nilai kita dari waktu ke waktu dan tentunya kita akan semakin unik.

Differentiation merupakan proses meningkatkan value kita dari dalam. Ketika memiliki differensiasi yang unik kita akan dianggap sebagai asset berharga, tapi disini kita masih dalam tahap atau tingkatan “diketahui” bukan “diingat”. Ketika seseorang ditanya oleh orang lain tentang kita, maka dia hanya akan menyebutkan data diri kita saja seperti : nama, alamat, no telp, atau lainnya dan tidak menyebut value yang unik dari kita. Kenapa begitu ??, padahal kita sudah memiliki differentiation yang bagus. Jawabannya adalah Positioning kita belum jelas. Lalu bagaimana membuat positioning yang clear ??. Positioning (dalam konteks marketing yourself) adalah strategi untuk menguasai fikiran orang lain agar mengasosiasikan suatu pekerjaan kepada kita saja karena dia menganggap menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan memuaskan. Misalnya ketika seseorang ditanya “siapa sih marketing manager yang ok ?”, maka dia akan langsung menyebutkan nama seseorang yang dia anggap mampu melakukannya.

Nah sekarang bagaimana caranya membuat agar positioning kita sejelas mungkin ??. Ada empat cara untuk melakukannya (Hermawan Kartajaya) :
1. Positioning yang kita tonjolkan harus memiliki persepsi positif oleh orang lain dan menjadi alasan kenapa memilih anda sebagai karyawan atau lainnya. Misalnya ketika seorang lulusan S1 TI melamar perkejaan, dalam CVnya dia mendaftarkan semua kemampuannya yang memang berhubungan dengan kebutuhan perusahaan. Sehingga ketika perusahaan mengetahuinya kita dianggap sebagai asset berharga. Jadi disini dibutuhkan ketelitian dan strategi dalam membuat CV terutama dalam membuat daftar kemampuan yang kita miliki. Jangan sampai kita memasukkan kemampuan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kebutuhan perusahaan karena akan membuat persepsi perusahaan menjadi bias dan tentunya positioning kita menjadi tidak clear.

2. Positioning harus mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif kita. Mungkin karena ketatnya persaingan saat ini, ada orang-orang tertentu yang memasukkan keahliah yang sebenarnya dia tidak kuasai. Dengan alasan memperbesar peluang !. Ini sangat berbahaya dan dapat menghancurkan brand equity kita, yaitu nama kita. Ketika kita menjanjikan sesuatu dan tidak dapat melakukannya (under-deliver) maka secara otomatis kepercayaan orang akan hilang dan otomatis kredibilitas kita akan hancur. Ini sesuai dengan perkataan Al-Ries “perception is more that reality”, ketika persepsi orang jelek terhadap kita maka kita akan selalu dianggap jelek.

3. Positioning harus bersifat unik. Sama halnya dengan differentiation, positioning juga mesti mempunyai keunikan yang tidak mudah ditiru oleh pesaingnya. Coba lihat moto starbucks “The World’s Finest Coffee”, dia tidak memposisikan diri seperti para pesaingnya yang mengatakan sebagai pembuat kopi terenak. Tapi Starbucks mengatakan sebagai tempat menikmati pengalaman ngopi, maksudnya dengan menyediakan berbagai macam rasa kopi yang unik. Kita juga dapat melakukan apa yang dilakukan starbuck dalam persaingan kerja saat ini, misalnya sebagai seorang design grafis kita dapat mengatakan dalam wawancara bahwa “dapat memberikan ide yang fresh”. Nah sementara orang berebut mengatakan bahwa dirinya yang terbaik untuk pekerjaan tersebut, kita memberikan sesatu yang berbeda yaitu ide yang fresh.

4. Positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dengan keadaan yang ada. Misalnya ketika kita sudah diterima disuatu perusahaan, tapi perusahaan tersebut membutuhkan sesuatu yang baru untuk meningkatkan kompetensi. Dengan tuntutan tersebut kita sebagai karyawan harus memiliki kemampuan lain yang berhubungan dengan kebutuhan perusahaan, sehingga perusahaan tetap menganggap kita sebagai asset berharga.

Relation Between Differentiation, Positioning, and Brand

Relation Between Differentiation, Positioning, and Brand

Dengan differentiation yang kuat dan unik serta positioning yang clear sudah pasti nama kita (brand) akan menjadi kokoh dan memiliki kredibilitas tinggi. Denga modal tersebut kita bisa lepas dari comodity.


4 Responses to “Marketing Yourself ! : How to improve your value in competency market.”

Leave a Reply